Aan Luchiyanti Anggarini
Rabu, 14 Maret 2012
Tugas B.INDONESIA . Puisi Tentang DOA
Di kesunyian malam aku teringat padamu
Hanya bisa dirasakan namun tak berwujud
Inginku selalu menggenggamu
Satukan keluh kesah ku saat bersamamu
Jalan hidup penuh rintangan
Kadang tak mampu tuk menjalaninya
Terusku berpegang teguh denganmu
Meski berjalan diatas butiran air mata
Menjalani apa yang kau beri
Meski penuh liku
Penuh goresan luka
Ku tetap ingin menggapaimu
Berjalan dengan tuntunanmu
Dilororng-lorong putihmu
Ku kan terus berjalan menuju cahayamu
Engkaulah pemilik jiwa dan ragaku
Jumat, 09 Maret 2012
Penyayat Hati
Dunia memang tak sempurna ..
Manusia pun begitu ..
Hanya bisa menyaksikan
Penyayat-penyayat hati
Kekejaman kata-kata
Air mata tak berharga
Jatuh dalam lubang kesuraman
Gelap dunia menakutkan
Berdiri sendiri dengan kesenjangan
Resahku tiada henti
Noda di hati tak kan hilang
Membekas penuh luka
Bersimbah darah disebuah kerangka
Logika mengira tak bersyarat
Haya bersembah sujudku hanya untukmu
Bersandar hidupku hanya denganmu
Atas inginku ini roboh
Kan tetap ku genggam ayat-ayatmu
Genggam tasbihmu
Tempat pengadu semua umat
Hidup bergantung denganmu
Bila engkau inginku merasakan semua ini
Biarkanlah aku
Bila engkau mengasihaniku
Bawalah aku pergi bersamamu .....
Manusia pun begitu ..
Hanya bisa menyaksikan
Penyayat-penyayat hati
Kekejaman kata-kata
Air mata tak berharga
Jatuh dalam lubang kesuraman
Gelap dunia menakutkan
Berdiri sendiri dengan kesenjangan
Resahku tiada henti
Noda di hati tak kan hilang
Membekas penuh luka
Bersimbah darah disebuah kerangka
Logika mengira tak bersyarat
Haya bersembah sujudku hanya untukmu
Bersandar hidupku hanya denganmu
Atas inginku ini roboh
Kan tetap ku genggam ayat-ayatmu
Genggam tasbihmu
Tempat pengadu semua umat
Hidup bergantung denganmu
Bila engkau inginku merasakan semua ini
Biarkanlah aku
Bila engkau mengasihaniku
Bawalah aku pergi bersamamu .....
Tugas Bahasa Jepang no 1 ( Buah-buahan)
No B.Indonesia => Romaji => Katakana
1 Jeruk => Kankitsurui => かんきつ類
2 Anggur => Budou => ふどう
3 Apel => Ringo => りんご
4 Ceri => Sakuranbou => サクランボウ
5 nanas => Painappurru => パイナップル
1 Jeruk => Kankitsurui => かんきつ類
2 Anggur => Budou => ふどう
3 Apel => Ringo => りんご
4 Ceri => Sakuranbou => サクランボウ
5 nanas => Painappurru => パイナップル
Karya Seni Musik Gamelan
Gamelan adalah ensembel musik yang biasanya menonjolkan metalofon, gambang, gendang, dan gong. Istilah gamelan merujuk pada instrumennya / alatnya, yang mana merupakan satu kesatuan utuh yang diwujudkan dan dibunyikan bersama. Kata Gamelan sendiri berasal dari bahasa Jawa gamel yang berarti memukul / menabuh, diikuti akhiran an yang menjadikannya kata benda. Orkes gamelan kebanyakan terdapat di pulau Jawa, Madura, Bali, dan Lombok di Indonesia dalam berbagai jenis ukuran dan bentuk ensembel. Di Bali dan Lombok saat ini, dan di Jawa lewat abad ke-18, istilah gong lebih dianggap sinonim dengan gamelan.
Kemunculan gamelan didahului dengan budaya Hindu-Budha yang mendominasi Indonesia pada awal masa pencatatan sejarah, yang juga mewakili seni asli indonesia. Instrumennya dikembangkan hingga bentuknya sampai seperti sekarang ini pada zaman Kerajaan Majapahit. Dalam perbedaannya dengan musik India, satu-satunya dampak ke-India-an dalam musik gamelan adalah bagaimana cara menyanikannya. Dalam mitologi Jawa, gamelan dicipatakan oleh Sang Hyang Guru pada Era Saka, dewa yang menguasai seluruh tanah Jawa, dengan istana di gunung Mahendra di Medangkamulan (sekarang Gunung Lawu). Sang Hyang Guru pertama-tama menciptakan gong untuk memanggil para dewa. Untuk pesan yang lebih spesifik kemudian menciptakan dua gong, lalu akhirnya terbentuk set gamelan.[rujukan?]Gambaran tentang alat musik ensembel pertama ditemukan di Candi Borobudur, Magelang Jawa Tengah, yang telah berdiri sejak abad ke-8. Alat musik semisal suling bambu, lonceng, kendhang dalam berbagai ukuran, kecapi, alat musik berdawai yang digesek dan dipetik, ditemukan dalam relief tersebut. Namun, sedikit ditemukan elemen alat musik logamnya. Bagaimanapun, relief tentang alat musik tersebut dikatakan sebagai asal mula gamelan.
Penalaan dan pembuatan orkes gamelan adalah suatu proses yang kompleks. Gamelan menggunakan empat cara penalaan, yaitu sléndro, pélog, "Degung" (khusus daerah Sunda, atau Jawa Barat), dan "madenda" (juga dikenal sebagai diatonis, sama seperti skala minor asli yang banyak dipakai di Eropa.
Musik Gamelan merupakan gabungan pengaruh seni luar negeri yang beraneka ragam. Kaitan not nada dari Cina, instrumen musik dari Asia Tenggara, drum band dan gerakkan musik dari India, bowed string dari daerah Timur Tengah, bahkan style militer Eropa yang kita dengar pada musik tradisional Jawa dan Bali sekarang ini.
Interaksi komponen yang sarat dengan melodi, irama dan warna suara mempertahankan kejayaan musik orkes gamelan Bali. Pilar-pilar musik ini menyatukan berbagai karakter komunitas pedesaan Bali yang menjadi tatanan musik khas yang merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-har
Sejarah Tentang Sastra
Sejarah Sastra Indonesia
Sejarah sastra Indonesia, seperti halnya sejarah sosial lainnya, masih belummemperlihatkan kondisi yang sebenarnya. Bangunan sejarah sastra Indonesia rumpang disejumlah bagian. Ini diakibatkan oleh studi sastra yang berpedoman pada kanonisasi dankategorisasi sastra, pengukuhan periodeisasi yang telah ditulis sebelumnya, di samping jugakarena keterbatasan sumber data dan kritikus yang ada.Penulisan sejarah sastra memunculkan sejumlah nama dan karya yang dianggap mewakiliperiode tertentu dalam pembabakan yang diciptakan. Selain disangkutkan pada peristiwa sosial,pembabakan ini juga memperlihatkan pada kecenderungan capaian estetika tertentu, sesuaidengan semangat zamannya. Karena itu, kita mengenal periode Balai Pustaka, Pujangga Baru,Angkatan 45, Angkatan 66, dan sebagainya. Inilah risiko yang harus dijumpai hingga saat ini,bagaimana sejarah perjalanan sastra Indonesia tak dapat dilepaskan dari konteks sosialnya.Setidaknya, pandangan ini memperlihatkan hubungan yang erat antara sastra dan masyarakatnya.Di luar kanonisasi dan kategorisasi yang dibentuk, sejumlah genre sastra kita hilang atautidak banyak dibicarakan. Karya-karya yang ada di media massa, terutama yang terbit diberbagai koran daerah, luput dari kajian. Karya-karya yang dianggap picisan atau terbitanpenerbit partikelir pribumi juga tak masuk dalam pembicaraan. Bahkan, beberapa karya awalsejumlah pengarang besar yang terbit di koran dan penerbit kecil tak masuk dalam daftar riwayatkepengarangan, yang sebenarnya penting untuk dibicarakan dalam proses kreatif kepengarangan.Bahkan sejumlah karya tidak dapat ditemukan lagi, baik akibat sensor dan pembredelan padamasa penjajahan dan setelah kemerdekaan, maupun karena telah hancur karena umurnya yangsudah tua.
Namun, kajian sejarah sastra Indonesia, terutama yang membicarakan karya-karya yangtidak masuk dalam kanonisasi ini, telah dilakukan oleh sejumlah ahli sastra dan hasilnya dapatkita temukan. Wendy June Solomon (1993) dan Mikihiro Moriyama (2005), misalnya, dengancukup komprehensif membahas karya-karya sastra yang terbit di Jawa Barat dan sejarahpenerbitannya. Demikian juga dengan George Quinn (1992) yang meneliti novel-novel Jawa.Ada juga Sitti Faizah Rivai (1963) yang pernah menulis skripsi di Universitas Indonesia tentangroman-roman picisan pada zaman penjajahan. Kajian yang menarik juga muncul di sejumlahartikel dalam buku Clearing a Space yang dieditori oleh Keith Foulcher dan Tony Day (2006).Doris Jedamski (2007) juga melakukan penelitian terhadap polemik karya sastra yang terbit diMedan pada masa penjajahan.Jika kita baca sejumlah penelitian yang disebutkan di atas, yang sebagian besar dilakukanoleh para peneliti dari luar negeri, ternyata nama dan karya di luar kanonisasi dan kategori yangdibentuk dalam kajian sejarah sastra Indonesia cukup menarik untuk dibahas. Sejumlah halmenarik muncul. Tentu saja dengan sudut pandang kajian yang menawan pula. Paling tidak, kitabisa membaca kajian dengan obyek yang masuk dalam kanonisasi yang termaktub dalam tesisWatson (1972) tentang sosiologi karya-karya terbitan Balai Pustaka yang cukup luas. Ataubagaimana pengaruh pengarang Minangkabau dalam karya-karya Balai Pustaka yang dibahasoleh Freidus (1977). Perspektif yang digunakan dalam kajian-kajian mereka cukup jernih, dalamartian bagaimana mereka memperlakukan obyek kajiannya tanpa tendensi pengaruh kanonisasidan kategorisasi yang dibentuk.Inilah yang menjadi tantangan lain dalam penulisan dan kajian sejarah sastra kita. Tanpaharus mempertahankan dan melanjutkan tradisi kanonisasi, yang hanya akan berakibat padapembenaran dan penguatan kesimpulan yang ada sebelumnya. Penulisan sejarah sastra kita dapatdisemarakkan oleh berbagai revisi atas kesimpulan terdahulu. Dan hal ini tampaknyamemerlukan pengkaji baru, jika tidak ada perubahan sikap keterbukaan para peneliti yang ada,yang berbicara atas penemuan mereka, bukan pada upaya mempertahankan pernyataan-pernyataan yang telah mereka buat.Modal usaha seperti ini sebenarnya sudah tersedia, dengan memanfaatkan berbagaiinstitusi yang ada, seperti fakultas sastra, balai bahasa, dan perpustakaan yang tersebar diberbagai daerah di Indonesia. Apalagi sudah banyak kajian awal yang dilakukan oleh parapeneliti sastra Indonesia. Beberapa terbitan mengenai sastra di berbagai daerah, sepengetahuansaya, hanya berupa kompilasi sastra, baik kajian maupun karya sastra, yang belummencerminkan kondisi sesungguhnya dari dinamika sastra Indonesia.
Kontinuitas sastra Indonesia
Sastra Indonesia, dengan penambahan kata ”modern”, sering kali menjadi awalperdebatan ketika berbicara tentang sejarah sastra Indonesia. Pengaruh bentuk dan gaya sastraasing (baca: Barat) dijadikan patokan untuk menyebut sastra Indonesia yang modern. Dalamnuansa dan konteks seperti ini, kesinambungan sastra Indonesia yang modern dengan tradisisastra yang sudah ada, yang menjadi latar estetik para pengarang, menjadi kabur. Pergaulanpengarang dengan budayanya, dengan tradisi estetik yang diterima secara budaya, sekadarmenjadi warna atau setting dalam proses kreatif yang dijalaninya.Pada masa transisi dari sastra lama ke sastra modern, jika itu ada, dibatasi dan ditandaipada penghormatan akan nama pengarang yang sebelumnya anonim, media publikasi, bentuk pendidikan dan pengetahuan barat, dan pengaruh karya sastra barat. Sebagai akibat, sastra lamakemudian dijadikan artifak, yang dikaji melalui filologi atau arkeologi. Para peneliti sastra,khususnya sejarah sastra, menjadi asing dengan tradisi yang dimiliki oleh sejarah panjang sastradi Indonesia, atau nusantara ini. Hal yang lazim adalah para peneliti sastra menggunakan hasilkajian yang terakhir itu untuk menunjang kerja mereka. Kita tidak pernah betul-betulbersinggungan langsung dengan karya-karya lama kita.Sementara waktu terus berjalan, jarak ketertinggalan kita dengan persoalan yang seriusini mungkin semakin panjang. Karya sastra Indonesia yang modern dan kontemporer terus lahir,yang belum sepenuhnya mampu dibicarakan. Di lain sisi, sastra lama kita juga semakin jauh danasing. Kegundahan yang menyelimuti kajian sastra Indonesia, terutama para penelitinya,tampaknya tergambar dalam situasi seperti ini.
Kecenderungan penulisan
Penulisan sejarah sastra Indonesia telah banyak dilakukan peneliti sastra. Ajip Rosidi(1983. cet.3), Jacob Sumardjo (2004, 1999), Yudiono KS (2007), Korrie Layun Rampan (1983,1986), Agus R Sarjono (2001), HB Jassin (tentu saja dalam berbagai buku yang ditulis ataudieditorinya), dan sebagainya. Namun, dengan menekankan pada periodisasi berdasarkankonteks sosial, seperti yang sudah dikenal secara luas, masih meninggalkan sejumlah fakta yangcukup penting.Sastra dianggap penting ketika ia berkorelasi dengan situasi di luar dirinya, atauketerlibatan pengarang dalam aktivitas sosial. Aspek sosiologi dari sastra mau tak mau dijadikandasar pijakan dalam penulisan sejarah sastra. Beban sosial ini dengan segera menjadi dasarkriteria dalam menentukan kualitas karya, dan menempatkannya dalam deretan penting karyasastra yang tercatat dalam sejarahnya. Capaian bentuk estetika karya, karenanya, menjadipertimbangan berikutnya.Pertimbangan sosiologi ini memang menjadi salah satu indikasi yang menonjol, karenapeneliti sastra dapat merujuknya dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia. Namunkemudahan ini tentu saja bukan menjadi alasan utama ketika kita harus berbicara tentang sastra,termasuk dalam penulisan sejarah sastra, dengan perangkat estetika yang tidak melulu berbicaratentang aspek sosialnya.Sastra dibagi dalam 2 kelompok besar yaitu :
Sastra Lama
Sastra lama adalah sastra yang berbentu lisan atau sastra melayu yang tercipta dari suatuujaran atau ucapan. Sastra lama masuk ke indonesia bersamaan dengan masuknya agama islampada abad ke-13. Peninggalan sastra lama terlihat pada dua bait syair pada batu nisan seorangmuslim di Minye Tujuh, Aceh.Ciri dari sastra lama yaitu :- Anonim atau tidak ada nama pengarangnya- Istanasentris (terikat pada kehidupan istana kerajaan)
- Tema karangan bersifat fantastis- Karangan berbentuk tradisional- Proses perkembangannya statis- bahasa klise
Contoh sastra lama : fabel, sage, mantra, gurindam, pantun, syair, dan lain-lain.
Sastra Baru
Sastra baru adalah karya sastra yang telah dipengaruhi oleh karya sastra asing sehinggasudah tidak asli lagi.Ciri dari sastra baru yakni :- Pengarang dikenal oleh masyarakat luas- Bahasanya tidak klise- Proses perkembangan dinamis- tema karangan bersifat rasional- bersifat modern / tidak tradisional- masyarakat sentris (berkutat pada masalah kemasyarakatan)Contoh sastra baru : novel, biografi, cerpen, drama, soneta, dan lain sebagainya.Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:
•
Angkatan Pujangga Lama
•
Angkatan Sastra Melayu Lama
•
Angkatan Balai Pustaka
•
Angkatan Pujangga Baru
•
Angkatan 1945
•
Angkatan 1950 - 1960-an
•
Angkatan 1966 - 1970-an
•
Angkatan 1980 - 1990-an
•
Angkatan Reformasi
•
Angkatan 2000-an
Langganan:
Komentar (Atom)

