Jumat, 09 Maret 2012

Sejarah Tentang Sastra


Sejarah Sastra Indonesia
Sejarah sastra Indonesia, seperti halnya sejarah sosial lainnya, masih belummemperlihatkan kondisi yang sebenarnya. Bangunan sejarah sastra Indonesia rumpang disejumlah bagian. Ini diakibatkan oleh studi sastra yang berpedoman pada kanonisasi dankategorisasi sastra, pengukuhan periodeisasi yang telah ditulis sebelumnya, di samping jugakarena keterbatasan sumber data dan kritikus yang ada.Penulisan sejarah sastra memunculkan sejumlah nama dan karya yang dianggap mewakiliperiode tertentu dalam pembabakan yang diciptakan. Selain disangkutkan pada peristiwa sosial,pembabakan ini juga memperlihatkan pada kecenderungan capaian estetika tertentu, sesuaidengan semangat zamannya. Karena itu, kita mengenal periode Balai Pustaka, Pujangga Baru,Angkatan 45, Angkatan 66, dan sebagainya. Inilah risiko yang harus dijumpai hingga saat ini,bagaimana sejarah perjalanan sastra Indonesia tak dapat dilepaskan dari konteks sosialnya.Setidaknya, pandangan ini memperlihatkan hubungan yang erat antara sastra dan masyarakatnya.Di luar kanonisasi dan kategorisasi yang dibentuk, sejumlah genre sastra kita hilang atautidak banyak dibicarakan. Karya-karya yang ada di media massa, terutama yang terbit diberbagai koran daerah, luput dari kajian. Karya-karya yang dianggap picisan atau terbitanpenerbit partikelir pribumi juga tak masuk dalam pembicaraan. Bahkan, beberapa karya awalsejumlah pengarang besar yang terbit di koran dan penerbit kecil tak masuk dalam daftar riwayatkepengarangan, yang sebenarnya penting untuk dibicarakan dalam proses kreatif kepengarangan.Bahkan sejumlah karya tidak dapat ditemukan lagi, baik akibat sensor dan pembredelan padamasa penjajahan dan setelah kemerdekaan, maupun karena telah hancur karena umurnya yangsudah tua.
 
Namun, kajian sejarah sastra Indonesia, terutama yang membicarakan karya-karya yangtidak masuk dalam kanonisasi ini, telah dilakukan oleh sejumlah ahli sastra dan hasilnya dapatkita temukan. Wendy June Solomon (1993) dan Mikihiro Moriyama (2005), misalnya, dengancukup komprehensif membahas karya-karya sastra yang terbit di Jawa Barat dan sejarahpenerbitannya. Demikian juga dengan George Quinn (1992) yang meneliti novel-novel Jawa.Ada juga Sitti Faizah Rivai (1963) yang pernah menulis skripsi di Universitas Indonesia tentangroman-roman picisan pada zaman penjajahan. Kajian yang menarik juga muncul di sejumlahartikel dalam buku Clearing a Space yang dieditori oleh Keith Foulcher dan Tony Day (2006).Doris Jedamski (2007) juga melakukan penelitian terhadap polemik karya sastra yang terbit diMedan pada masa penjajahan.Jika kita baca sejumlah penelitian yang disebutkan di atas, yang sebagian besar dilakukanoleh para peneliti dari luar negeri, ternyata nama dan karya di luar kanonisasi dan kategori yangdibentuk dalam kajian sejarah sastra Indonesia cukup menarik untuk dibahas. Sejumlah halmenarik muncul. Tentu saja dengan sudut pandang kajian yang menawan pula. Paling tidak, kitabisa membaca kajian dengan obyek yang masuk dalam kanonisasi yang termaktub dalam tesisWatson (1972) tentang sosiologi karya-karya terbitan Balai Pustaka yang cukup luas. Ataubagaimana pengaruh pengarang Minangkabau dalam karya-karya Balai Pustaka yang dibahasoleh Freidus (1977). Perspektif yang digunakan dalam kajian-kajian mereka cukup jernih, dalamartian bagaimana mereka memperlakukan obyek kajiannya tanpa tendensi pengaruh kanonisasidan kategorisasi yang dibentuk.Inilah yang menjadi tantangan lain dalam penulisan dan kajian sejarah sastra kita. Tanpaharus mempertahankan dan melanjutkan tradisi kanonisasi, yang hanya akan berakibat padapembenaran dan penguatan kesimpulan yang ada sebelumnya. Penulisan sejarah sastra kita dapatdisemarakkan oleh berbagai revisi atas kesimpulan terdahulu. Dan hal ini tampaknyamemerlukan pengkaji baru, jika tidak ada perubahan sikap keterbukaan para peneliti yang ada,yang berbicara atas penemuan mereka, bukan pada upaya mempertahankan pernyataan-pernyataan yang telah mereka buat.Modal usaha seperti ini sebenarnya sudah tersedia, dengan memanfaatkan berbagaiinstitusi yang ada, seperti fakultas sastra, balai bahasa, dan perpustakaan yang tersebar diberbagai daerah di Indonesia. Apalagi sudah banyak kajian awal yang dilakukan oleh parapeneliti sastra Indonesia. Beberapa terbitan mengenai sastra di berbagai daerah, sepengetahuansaya, hanya berupa kompilasi sastra, baik kajian maupun karya sastra, yang belummencerminkan kondisi sesungguhnya dari dinamika sastra Indonesia.


Kontinuitas sastra Indonesia
Sastra Indonesia, dengan penambahan kata ”modern”, sering kali menjadi awalperdebatan ketika berbicara tentang sejarah sastra Indonesia. Pengaruh bentuk dan gaya sastraasing (baca: Barat) dijadikan patokan untuk menyebut sastra Indonesia yang modern. Dalamnuansa dan konteks seperti ini, kesinambungan sastra Indonesia yang modern dengan tradisisastra yang sudah ada, yang menjadi latar estetik para pengarang, menjadi kabur. Pergaulanpengarang dengan budayanya, dengan tradisi estetik yang diterima secara budaya, sekadarmenjadi warna atau setting dalam proses kreatif yang dijalaninya.Pada masa transisi dari sastra lama ke sastra modern, jika itu ada, dibatasi dan ditandaipada penghormatan akan nama pengarang yang sebelumnya anonim, media publikasi, bentuk pendidikan dan pengetahuan barat, dan pengaruh karya sastra barat. Sebagai akibat, sastra lamakemudian dijadikan artifak, yang dikaji melalui filologi atau arkeologi. Para peneliti sastra,khususnya sejarah sastra, menjadi asing dengan tradisi yang dimiliki oleh sejarah panjang sastradi Indonesia, atau nusantara ini. Hal yang lazim adalah para peneliti sastra menggunakan hasilkajian yang terakhir itu untuk menunjang kerja mereka. Kita tidak pernah betul-betulbersinggungan langsung dengan karya-karya lama kita.Sementara waktu terus berjalan, jarak ketertinggalan kita dengan persoalan yang seriusini mungkin semakin panjang. Karya sastra Indonesia yang modern dan kontemporer terus lahir,yang belum sepenuhnya mampu dibicarakan. Di lain sisi, sastra lama kita juga semakin jauh danasing. Kegundahan yang menyelimuti kajian sastra Indonesia, terutama para penelitinya,tampaknya tergambar dalam situasi seperti ini.
 

Kecenderungan penulisan

Penulisan sejarah sastra Indonesia telah banyak dilakukan peneliti sastra. Ajip Rosidi(1983. cet.3), Jacob Sumardjo (2004, 1999), Yudiono KS (2007), Korrie Layun Rampan (1983,1986), Agus R Sarjono (2001), HB Jassin (tentu saja dalam berbagai buku yang ditulis ataudieditorinya), dan sebagainya. Namun, dengan menekankan pada periodisasi berdasarkankonteks sosial, seperti yang sudah dikenal secara luas, masih meninggalkan sejumlah fakta yangcukup penting.Sastra dianggap penting ketika ia berkorelasi dengan situasi di luar dirinya, atauketerlibatan pengarang dalam aktivitas sosial. Aspek sosiologi dari sastra mau tak mau dijadikandasar pijakan dalam penulisan sejarah sastra. Beban sosial ini dengan segera menjadi dasarkriteria dalam menentukan kualitas karya, dan menempatkannya dalam deretan penting karyasastra yang tercatat dalam sejarahnya. Capaian bentuk estetika karya, karenanya, menjadipertimbangan berikutnya.Pertimbangan sosiologi ini memang menjadi salah satu indikasi yang menonjol, karenapeneliti sastra dapat merujuknya dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia. Namunkemudahan ini tentu saja bukan menjadi alasan utama ketika kita harus berbicara tentang sastra,termasuk dalam penulisan sejarah sastra, dengan perangkat estetika yang tidak melulu berbicaratentang aspek sosialnya.Sastra dibagi dalam 2 kelompok besar yaitu :


Sastra Lama
Sastra lama adalah sastra yang berbentu lisan atau sastra melayu yang tercipta dari suatuujaran atau ucapan. Sastra lama masuk ke indonesia bersamaan dengan masuknya agama islampada abad ke-13. Peninggalan sastra lama terlihat pada dua bait syair pada batu nisan seorangmuslim di Minye Tujuh, Aceh.Ciri dari sastra lama yaitu :- Anonim atau tidak ada nama pengarangnya- Istanasentris (terikat pada kehidupan istana kerajaan)
 
- Tema karangan bersifat fantastis- Karangan berbentuk tradisional- Proses perkembangannya statis- bahasa klise
Contoh sastra lama : fabel, sage, mantra, gurindam, pantun, syair, dan lain-lain.

 Sastra Baru
Sastra baru adalah karya sastra yang telah dipengaruhi oleh karya sastra asing sehinggasudah tidak asli lagi.Ciri dari sastra baru yakni :- Pengarang dikenal oleh masyarakat luas- Bahasanya tidak klise- Proses perkembangan dinamis- tema karangan bersifat rasional- bersifat modern / tidak tradisional- masyarakat sentris (berkutat pada masalah kemasyarakatan)Contoh sastra baru : novel, biografi, cerpen, drama, soneta, dan lain sebagainya.Secara urutan waktu maka sastra Indonesia terbagi atas beberapa angkatan:

Angkatan Pujangga Lama

Angkatan Sastra Melayu Lama

Angkatan Balai Pustaka

Angkatan Pujangga Baru

Angkatan 1945

Angkatan 1950 - 1960-an

Angkatan 1966 - 1970-an

Angkatan 1980 - 1990-an

Angkatan Reformasi

Angkatan 2000-an

Tidak ada komentar:

Posting Komentar